Selasa, 03 Maret 2020

Ungkap Rahasia dibalik Ramainya Nasi Babat Madura (NBM)





Kawasan wisata religi Sunan Ampel Surabaya sangat terkenal dengan kulinernya salah satunya yaitu Nasi Babat Madura Ibu Hammiyah, berlokasi di jalan Nyamplungan depan pasar Pegirian yang sudah berdiri sejak tahun 2010. Para pengunjung yang datang ke tempat makan ini begitu beragam mulai dari kaum muda, dewasa, sampai orang tua dikarenakan cita rasa yang dimiliki begitu enak dan  khas maduranya begitu terasa. Salah satu menu favorit yang biasanya pengunjung pesan adalah nasi jagung dituangi kuah babat dengan lauk yang empuk dan gurih, serta sambal yang diulek campur garam menambah cita rasa makananan ini.
Tidak hanya babat, warung ini juga menyediakan berbagai lauk ada usus, tongkol, telor, kikil, paru, belut, peyek udang, untuk minuman ada sinom dan teh. Harga mulai dari sepuluh ribu dan untuk yang ingin lauk komplit cukup membayar tiga puluh ribu saja, “enak semua sih, trus murah,” ungkap Risti pembeli dari Pandegiling Surabaya.
Walaupun makanan dan penjual pun semua asli Madura, namun tempat makan nasi babat Madura ini, sudah didatangi pengunjung dari berbagai kota sehingga sudah tidak diragukan lagi rasanya. Bahan-bahan yang disediakan untuk kebutuhan dapur  perharinya seperti beras bisa sampai lima belas karung, babat dua kwintal, kikil 300 potong, paru sepuluh kilogram, dan lainnya antara dua puluh sampai dua puluh lima kilogram. Persediaan tersebut pasti habis terjual bahkan ada yang tidak kebagian padahal sudah antri berjam-jam.  Hal ini tidak lain karena ramainya pengunjung yang ingin menikmati Nasi Babat Madura ini.
Namun, dibalik keramaian atau keuntungan yang didapatkan oleh Ibu Hammiyah sebagai pemilik warung menimbulkan tanggapan negatif, seringkali terdapat tanggapan yang tidak enak didengar seperti ramainya pembeli warung nasi babat ini dianggap dari usaha bantuan ghaib (guna-guna).
Khotiba cucu dari pemilik warung nasi babat Madura menjelaskan terkait tanggapan tersebut, setiap malam jumat manis keluarganya selalu memberikan shadaqah kepada anak yatim di Madura, dengan nominal uang yang disumbangkan dari lima sampai sepuluh juta. Belum lagi jika ada orang yang meminta untuk pembangunan masjid mereka tak segan untuk memberikan bantuan, “tapi gak semua orang tau itu,” ungakapnya.
Walaupun sebagian pembeli merasa terganggu dengan bau pasar dan lokasi yang kumuh. Tidak ada inisiatif dari pemilik untuk pindah lokasi alasannya karena pegawai yang masih sedikit dan warung nasi babat ini sudah terkenal di daerah Pegirian. Warung nasi babat kuliner yang terkenal di Surabaya Utara ini buka setiap hari, dari jam empat sore sampai jam tiga pagi, “tapi lebih sering tutup jam 12,” imbuh Khotiba. (dip)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar