Kawasan wisata religi
Sunan Ampel Surabaya sangat terkenal dengan kulinernya salah satunya yaitu Nasi
Babat Madura Ibu Hammiyah, berlokasi di jalan Nyamplungan depan pasar Pegirian
yang sudah berdiri sejak tahun 2010. Para pengunjung yang datang ke tempat makan
ini begitu beragam mulai dari kaum muda, dewasa, sampai orang tua dikarenakan
cita rasa yang dimiliki begitu enak dan
khas maduranya begitu terasa. Salah satu menu favorit yang biasanya
pengunjung pesan adalah nasi jagung dituangi kuah babat dengan lauk yang empuk
dan gurih, serta sambal yang diulek campur garam menambah cita rasa
makananan ini.
Tidak hanya babat, warung
ini juga menyediakan berbagai lauk ada usus, tongkol, telor, kikil, paru,
belut, peyek udang, untuk minuman ada sinom dan teh. Harga mulai dari sepuluh
ribu dan untuk yang ingin lauk komplit cukup membayar tiga puluh ribu saja,
“enak semua sih, trus murah,” ungkap Risti pembeli dari Pandegiling Surabaya.
Walaupun makanan dan
penjual pun semua asli Madura, namun tempat makan nasi babat Madura ini, sudah
didatangi pengunjung dari berbagai kota sehingga sudah tidak diragukan lagi
rasanya. Bahan-bahan yang disediakan untuk kebutuhan dapur perharinya seperti beras bisa sampai lima
belas karung, babat dua kwintal, kikil 300 potong, paru sepuluh kilogram, dan
lainnya antara dua puluh sampai dua puluh lima kilogram. Persediaan tersebut
pasti habis terjual bahkan ada yang tidak kebagian padahal sudah antri
berjam-jam. Hal ini tidak lain karena
ramainya pengunjung yang ingin menikmati Nasi Babat Madura ini.
Namun, dibalik keramaian
atau keuntungan yang didapatkan oleh Ibu Hammiyah sebagai pemilik warung
menimbulkan tanggapan negatif, seringkali terdapat tanggapan yang tidak enak
didengar seperti ramainya pembeli warung nasi babat ini dianggap dari usaha
bantuan ghaib (guna-guna).
Khotiba cucu dari pemilik
warung nasi babat Madura menjelaskan terkait tanggapan tersebut, setiap malam
jumat manis keluarganya selalu memberikan shadaqah kepada anak yatim di Madura,
dengan nominal uang yang disumbangkan dari lima sampai sepuluh juta. Belum lagi
jika ada orang yang meminta untuk pembangunan masjid mereka tak segan untuk
memberikan bantuan, “tapi gak semua orang tau itu,” ungakapnya.
Walaupun sebagian pembeli
merasa terganggu dengan bau pasar dan lokasi yang kumuh. Tidak ada inisiatif
dari pemilik untuk pindah lokasi alasannya karena pegawai yang masih sedikit
dan warung nasi babat ini sudah terkenal di daerah Pegirian. Warung nasi babat
kuliner yang terkenal di Surabaya Utara ini buka setiap hari, dari jam empat
sore sampai jam tiga pagi, “tapi lebih sering tutup jam 12,” imbuh Khotiba. (dip)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar