Selasa, 03 Maret 2020

Opini: Lingkar Keilmuan yang Nyaris Punah

Berdasarkan data google form yang disebar oleh kru NewNews sebanyak 59%  mahasiswa dari beberapa fakultas, lebih memilih mengikuti kajian ilmiah daripada kegiatan yang bersifat menghibur, seperti konser dengan alasan sebagai kebutuhan seorang mahasiswa untuk menambah pengetahuan. Data ini berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Dimana kebanyakan mahasiswa akan memilih mengikuti konser daripada mengikuti kajian, dengan dalih menghilangkan penat.
Hanya sedikit mahasiswa yang duduk melingkar untuk  kajian ilmiah. Padahal jika dilihat dari sisi kegunaannya, kajian ilmiah ini lebih berdampak positif pada diri mahasiswa, seperti membuka wawasannya. Mahasiswa lebih memilih berkumpul dan menyibukkan diri dengan kegiatan rapat untuk konser, seminar, dan yang lainnya. Struktur kepanitiaan biasanya dibentuk kurang lebih tiga bulan sebelum acara, dan rapat sekitar dua sampai tiga kali dalam seminggu dari pagi hingga malam untuk membahas dan menjalankan program kerja yang telah ditentukan pada saat rapat kerja selama satu tahun kepengurusan. Padahal, seperti acara seminar terkadang  sedikit mahasiswa yang hadir karena beberapa dari mereka hanya membutuhkan sertifikat sebagai persyaratan skripsi nanti.
Belum lagi diklat anggota baru yang mesti ada setiap tahunnya dan membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya dalam mempersiapkan acara tersebut. Seperti itulah kegiatan organisasi mahasiswa sekarang ini yang terus berulang sama pada setiap tahunnya, mulai dari pergantian pengurus baru. Sampai mereka lupa akan tugas dan peran yang sesungguhnya harus dilakukan oleh mahasiswa semasa kuliah, seperti pada tujuan mereka sebelum masuk universitas bagaimana mahasiswa bertanggung jawab sebagai siswa yang dimaha-kan.
Dilihat dari segi psikologisnya memang mahasiswa butuh tempat atau wadah untuk melepaskan tekanan yang mereka hadapi. Tapi dalam melepaskan tekanan yang mereka hadapi itu mereka terus menerus melampiaskannya pada hiburan semata, hal ini yang menjadi masalah. Mendapat banyak tugas dari dosen sudah menjadi tanggungan sebagai mahasiswa, tapi memilih kajian ilmiah bukanlah menjadi hal yang membosankan jika kajian tersebut dikemas sedemikian dengan konsepan yang matang, bertemu orang-orang baru, dan berdiskusi. sehingga menarik minat mahasiswa dalam membangun budaya yang beraura positif. Sebab lingkungan menjadi hal utama membentuk kebiasaan mahasiswa. Contohnya saja kajian filsafat, disaat kita belum seharusnya mendapatkan mata kuliah tersebut, kita sudah lebih dulu memahami hal tersebut.
Mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi, haruslah lebih mempertimbangkan program yang relefan dengan visi dan misinya. Jadi, Tidak hanya berlomba-lomba dalam membesarkan eksistensi lembaga, tetapi juga bagiamana output dari program tersebut dapat meningkatkan kualitas skill dan pengetahuan pada mahasiswa. Mengingat dibentuknya organisasi adalah sebagai sarana pengembangan diri mahasiswa, memperluas ilmu pengetahuan dan peningkatan potensi yang dimiliki mahasiswa, untuk mencapai tujuan pendidikan. Sehingga program yang dijalankan tidak hanya soal pembentukan panitia sebuah acara, melainkan kajian – kajian ilmiah yang sesuai dengan program studinya. Sudah barang tentu mahasiswa membutuhkan tambahan materi ilmu pengetahuan diluar bangku kuliah.
Sebenarnya pemilihan kegiatan ini sangatlah penting. Dilihat dari sisi manapun setiap kegiatan memiliki nilai sendiri, begitupula dengan kajian ilmiah. Yang menjadikan keduanya timpang tindih adalah ketika salah satu lebih unggul daripada yang lain. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kegiatan yang bersifat menghibur jika output dan konsep dari acara yang diselenggarakan memberikan manfaat dan keuntungan bagi masing-masing mahasiswa. Akan lebih baik jika keduanya diseimbangkan, antara hiburan dan kajian. Karena sesuatu yang dilebih lebihkan itu tidak baik. Maka dari itu, kebutuhan yang bersifat hiburan harus diseimbangkan dengan kebutuhan pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar