Berdasarkan data
google form yang disebar oleh kru NewNews sebanyak 59% mahasiswa dari beberapa fakultas, lebih memilih mengikuti kajian ilmiah
daripada kegiatan yang bersifat menghibur, seperti konser dengan alasan sebagai
kebutuhan seorang mahasiswa untuk menambah pengetahuan. Data ini berbanding
terbalik dengan kenyataan di lapangan. Dimana kebanyakan mahasiswa akan memilih
mengikuti konser daripada mengikuti kajian, dengan dalih menghilangkan penat.
Hanya sedikit mahasiswa yang duduk melingkar untuk kajian ilmiah. Padahal jika dilihat dari sisi
kegunaannya, kajian ilmiah ini lebih berdampak positif pada diri mahasiswa, seperti
membuka wawasannya. Mahasiswa lebih memilih berkumpul dan menyibukkan diri
dengan kegiatan rapat untuk konser, seminar, dan yang lainnya. Struktur
kepanitiaan biasanya dibentuk kurang lebih tiga bulan sebelum acara, dan rapat
sekitar dua sampai tiga kali dalam seminggu dari pagi hingga malam untuk
membahas dan menjalankan program kerja yang telah ditentukan pada saat rapat
kerja selama satu tahun kepengurusan. Padahal, seperti acara seminar
terkadang sedikit mahasiswa yang hadir
karena beberapa dari mereka hanya membutuhkan sertifikat sebagai persyaratan
skripsi nanti.
Belum lagi diklat anggota baru yang mesti ada setiap
tahunnya dan membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya dalam mempersiapkan acara
tersebut. Seperti itulah kegiatan organisasi mahasiswa sekarang ini yang terus
berulang sama pada setiap tahunnya, mulai dari pergantian pengurus baru. Sampai
mereka lupa akan tugas dan peran yang sesungguhnya harus dilakukan oleh
mahasiswa semasa kuliah, seperti pada tujuan mereka sebelum masuk universitas
bagaimana mahasiswa bertanggung jawab sebagai siswa yang dimaha-kan.
Dilihat dari
segi psikologisnya memang mahasiswa butuh tempat atau wadah untuk melepaskan
tekanan yang mereka hadapi. Tapi dalam melepaskan tekanan yang mereka hadapi
itu mereka terus menerus melampiaskannya pada hiburan semata, hal ini yang menjadi
masalah. Mendapat banyak tugas dari dosen sudah menjadi tanggungan sebagai
mahasiswa, tapi memilih kajian ilmiah bukanlah menjadi hal yang membosankan
jika kajian tersebut dikemas sedemikian dengan konsepan yang matang, bertemu
orang-orang baru, dan berdiskusi. sehingga menarik minat mahasiswa dalam
membangun budaya yang beraura positif. Sebab lingkungan menjadi hal utama
membentuk kebiasaan mahasiswa. Contohnya saja kajian filsafat, disaat kita
belum seharusnya mendapatkan mata kuliah tersebut, kita sudah lebih dulu
memahami hal tersebut.
Mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi,
haruslah lebih mempertimbangkan program yang relefan dengan visi dan misinya. Jadi,
Tidak hanya berlomba-lomba dalam membesarkan eksistensi lembaga, tetapi juga
bagiamana output dari program tersebut dapat meningkatkan kualitas skill
dan pengetahuan pada mahasiswa. Mengingat dibentuknya
organisasi adalah sebagai sarana pengembangan diri mahasiswa, memperluas ilmu
pengetahuan dan peningkatan potensi yang dimiliki mahasiswa, untuk mencapai
tujuan pendidikan. Sehingga program yang dijalankan tidak hanya soal
pembentukan panitia sebuah acara, melainkan kajian – kajian ilmiah yang sesuai
dengan program studinya. Sudah barang tentu mahasiswa membutuhkan tambahan
materi ilmu pengetahuan diluar bangku kuliah.
Sebenarnya
pemilihan kegiatan ini sangatlah penting. Dilihat dari sisi manapun setiap
kegiatan memiliki nilai sendiri, begitupula dengan kajian ilmiah. Yang
menjadikan keduanya timpang tindih adalah ketika salah satu lebih unggul
daripada yang lain. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kegiatan yang bersifat
menghibur jika output dan konsep dari acara yang diselenggarakan
memberikan manfaat dan keuntungan bagi masing-masing mahasiswa. Akan lebih baik
jika keduanya diseimbangkan, antara hiburan dan kajian. Karena sesuatu yang
dilebih lebihkan itu tidak baik. Maka dari itu, kebutuhan yang bersifat hiburan
harus diseimbangkan dengan kebutuhan pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar